Pasalnya, jembatan tersebut sangat diperlukan masyarakat, bahkan warga sempat mengangkut pisang dan barang lainnya dengan turun berjalan di sungai saat jembatan permanen itu ambruk beberapa hari lalu.
“Alhamdulillah pengerjaan jembatan darurat sudah selesai dikerjakan tim PUPR dan sudah fungsional sebagaimana yang diharapkan masyarakat, masyarakat mengaku senang dan terimakasih,” ujar Ir Fadhli.
Jembatan darurat bisa dilintasi kendaraan roda dua lebarnya hanya 3 x 5 meter.
Selain jembatan darurat selesai dibangun, pipa instalasi PDAM juga sudah diperbaiki, distribusi air ke Lawang dan berbagai desa lainnya hingga ke Jeunieb juga sudah lancar kembali.
Pj Keuchik Lawang, M Akmal Jumat (10/1/2025) menyampaikan terimakasih kepada PUPR dan pihak lainnya atas selesainya dibangun jembatan darurat itu.
“Alhamdulillah jembatan darurat sudah selesai, sepeda motor sudah bisa melintas, kalau mobil pick up kosong atau
tidak ada barang mungkin bisa, kalau banyak beban khawatir juga ambruk lagi,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, satu jembatan permanen ukuran 8 x 6 meter di perbatasan Desa Hagu dan Desa Lawang, Peudada Bireuen, sekitar 2,5 Km arah selatan Keude Peudada Bireuen putus total.
Selain jembatan ambruk, dua sisi tebing anak sungai Hagu juga abrasi.
satu rumah konstruksi permanen milik Darwinsyah di dekat jembatan terancam jatuh, bahkan bagian dapur sudah ambruk ke anak sungai.
Puluhan warga Lawang bersama sepeda motor berada di sebelah selatan jembatan tersebut.
Sedangkan puluhan warga Desa Hagu dan warga desa lainnya berada di sebelah utara jembatan tersebut.
Masyarakat tidak bisa melintas, kecuali turun ke anak sungai dengan jalan kaki untuk menyeberang.
Selain ambruk satu jembatan, tebing sungai sepanjang hampir 500 meter juga abrasi dihantam derasnya air sungai tersebut.
Pipa saluran PDAM untuk warga Lawang tembus ke Jeunieb juga patah dan rusak, distribusi air bersih terganggu. (*)

